Tampilkan postingan dengan label twist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label twist. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Film dengan Ending Tak Terduga!

Sebuah film tak hanya bisa menghibur lewat cerita lucu, adegan actiontingkat tinggi,serta kisah dramatis penuh haru. Jalan cerita yang ”menipu”seringnya malah menjadi sesuatu yang di tunggu.

Kita biasa menyebutnya twist ending. Twist ending dapat disebut sebagai akhir cerita film yang terjadi di luar perkiraan penonton.Bisa juga dikatakan bahwa film itu menggiring penonton untuk memiliki opini atau pendapat tertentu soal jalan cerita film, sebelum sutradara memutarbalikkan kesimpulan itu di akhir. Hasilnya? Terkejut.Nah,film-film apakah yang memiliki twist endingterbaik?
Sixth Sense (1999)
Film ini melambungkan nama sutradara Night M Shyamalan di kancah perfilman dunia. Berkat film ini Shyamalan didaulat sebagai sutradara yang piawai menciptakan twist ending. Akhir cerita film yang dibintangi Bruce Wills ini tak hanya orisinil, namun menjadi semacam inspirasi bagi film-film lain yang dirilis setelahnya, semisal The Others,yang juga dianggap memiliki twist mengejutkan atau horor Thailand bertajuk 4Bia.

Sixth Sense bercerita tentang seorang pria yang dihantui rasa bersalah karena membiarkan pasiennya bunuh diri setelah berusaha bunuh diri. Pria tersebut lantas bertemu seorang bocah laki-laki yang memiliki kekuatan supranatural dan mampu melihat orang yang sudah meninggal. Berkat Sixth Sense, Shyamalan yang asal India ini tak hanya meraih sukses secara komersial dengan meraup USD600 juta dari seluruh dunia, tapi juga diakui oleh para kritikus film dunia dengan mendapatkan enam nominasi Oscar pada 1999, termasuk pada kategori Sutradara dan Skenario Terbaik.
Fight Club (1999)
Tak hanya menjadi film aksi dengan nilai artistik tinggi,Fight Club juga merupakan film dengan twist yang diingat banyak orang. Sebenarnya sutradara David Fincher sudah memberi banyak petunjuk pada penonton tentang ”keanehan”pada dua pemeran utamanya (diperankan Edward Norton dan Brad Pitt).

Namun dengan cerdas ia menghipnotis mata penonton dengan aksi perkelahian tangan kosong serta konflik antara dua karakter utama itu hingga lupa memperhatikan detail cerita. Berkat novel Chuck Palahniuk dan Fincher yang selalu lihai membuat jalinan cerita abstrak,Fight Club semakin sempurna di kalangan pencinta film.
The Usual Suspects (1995)

Ceritanya tentang satu-satunya korban selamat dari sebuah kecelakaan kapal. Tak mengherankan bila polisi mencurigainya sebagai pelaku dari peristiwa yang menewaskan banyak orang tersebut. Penonton awalnya juga digiring untuk mencurigai sang pria.

Sebaliknya, sutradara Bryan Singer perlahan-lahan mempengaruhi penonton untuk berpihak pada sang pria, atau setidaknya mulai menyelidiki apakah perkataannya benar atau tidak. Di akhir film berkategori neo-noir itu Singer memberikan kejutan yang sama sekali tidak terpikirkan.The Usual Suspectjadi contoh film kriminal-interogatif yang berhasil mengguncang penonton.
Memento (2000)

Memento jadi film yang meneguhkan Christopher Nolan sebagai sutradara dengan film-film beratmosfer ”gelap” dan ”misterius”. Bahkan dari premisnya sendiri Memento sudah sangat menarik: seorang pria yang mengalami short-term memory loss mencoba memburu pembunuh istrinya. Ia menggunakan catatan dan tato untuk melacak sang pembunuh.Film berjalan lewat dua cerita,satu berjalan maju, satunya lagi flashback. (herita endriana)
Harold and maude

Klo ga salah film komedi satir ini dibuat taun 1971, dapet referensi dari cinemags. Ceritanya sendiri tentang pacaran beda usia terpaut sangat-sangat jauh, harold

(17th) dan Maude (80th). Harold muda kaya, sangat terobsesi dengen kematian. Sedangkan maude tua- tua keladi, sangat periang, berkelakuan mirip abg. Mereka bertemu di acara pemakaman (kedua-duanya senang menghadiri acara pemakaman) dan pasangan aneh ini pun saling jatuh cinta… Nah ending film ini cukup menyentuh, dimana sang nenek memilih mengakhiri hidupnya tepat di hari ultahnya yg ke 80. sebelum meninggal maude mengadakan pesta perpisahan, dan menjadikan hari terakhirnya menjadi hari terindah dalam hidupnya…..
Skeleton Key

Sebetulnya film horor ini biasa aja, tapi ending ceritanya aja yg mnurut saya tidak biasa dan cukup menjengkelkan (tp tetap berkesan). Bagaimana tidak, sang villain lah yg menang diakhir cerita…..
The Shawshank Redemption

Film ini mnurut saya adalah salah satu film terbaik yg pernah saya lihat, film tahun 1994 karya stephen king ini bercerita tentang usaha kabur dari penjara yg dilakukan Andy selama 20 tahun dengan persiapkan sangat detil, bahkan mempersiapkan kebutuhan finansial selepas dari penjara!!. Ada kata2 mutiara di film ini yg cukup berkesan bagi saya, yg kurang lebih kata2nya adalah ” ada tempat di dunia ini yg tidak terbuat dari batu… sesuatu dalam diri kita, yg tidak bisa mereka dapatkan, tidak bisa mereka sentuh, dan sepenuhnya milikmu… sesuatu itu adalah harapan
Million Dollar Baby

Alur cerita ini berjalan lambat, tapi tetap enak untuk dinikmati, ceritanya seputar wanita cukup umur (sekitar 30tahun) yang baru memulai untuk bermain tinju secara profesional. Tidak disangka wanita ini mampu jadi petinju wanita yang cukup diperhitungkan, berbagai pertandingan di menangkan, sampai suatu ketika sang wanita terluka ketika bertanding tinju, dan mengalami cidera permanen yang membuatnya hampir lumpuh total. Ending cerita ini sungguh menyedihkan, sang petinju meminta pelatihnya untuk melakukan sesuatu terhadap dirinya, seperti yang dilakukan oleh ayahnya dulu terhadap anjing kesayangannya……
Atonement

Seperti yg pernah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya, cerita ini sangat mengharukan, apalagi di scene akhir ketika Briony tua diwawancara oleh pihak televisi tentang peluncuran novel terakhirnya…” dalam buku ini, saya berikan mereka hidup yg tidak pernah mereka dapatkan, saya tidak berfikir kalu ini suatu kelemahan atau pengelakan, tetapi kebajikan terakhir, saya berikan mereka kebahagiaan…
The Ring

The ring menjadi trendsetter film2 bergenre horror. Hollywood pun me remake film ini. Scene dimana sang hantu keluar dari layar televisi, sangat menakutkan dan cukup fenomenal!
Sixth sense / The Others

Knapa saya tulis dua film sekaligus? Karena kedua cerita ini punya kesamaan cerita dan sama-sama punya ending yang mengejutkan. Dari awal penonton digiring ke situasi dimana ada ’sesuatu diluar sana’, sesuatu yg tidak terlihat tapi ada disekitar kita… sesuatu yang mengganggu, sesuatu yg menakutkan… namun di akhir cerita keadaan itu berbalik 180 derajat.
The Village

M. Night Syamalan sutradara film sixth sense, dan juga sutradara film ini membuat saya terkagum2, lagi- lagi ending filmnya dibuat cukup mengejutkan. Walaupun kualitas film sixth sense lebih baik, tp saya lebih menyukai ending film ini.

Cerita yg bersetting eropa abad pertengahan, di sebuah desa yg terisolasi dari daerah lainnya, kehidupan masyarakatnya berlangsung dalam damai dan suasana yg sangat kekeluargaan, sampai terjadinya tragedi berdarah pertama yg terjadi di daerah itu, yg memaksa para tetua desa tersebut untuk mengutus salah satu warganya (yang buta) untuk keluar dari desanya untuk membeli persediaan obat2an untuk mengobati warganya yg terkena tusukan (klo ga salah), Nah disinilah ending cerita itu terjadi… kenyataannya desa yg mereka semua tinggali bukanlah desa kebanyakan, dan warga desa itu tidak sedang hidup di abad pertengahan….
The Godfather

Kisah keluarga mafia ini merupakan salah satu film favorit moviegoers, dan meraih banyak oscar. Alur film ini berjalan lambat namun sangat detil, kisah perseturan antara keluarga corleone dengan keluarga tataglia (klo ga salah). Ending cerita berlangsung sangat dramatis dimana keluarga corleone yg dipimpin michael corleone (al pacino ) mambantai keluarga tataglia dengan gaya khas mafioso…
The Notebook

Ending film ini sangat menyentuh, sangat romantis dan cukup menggetarkan hati saya. Film drama romantis ini ceritanya cukup sederhana, sepasang kekasih yg jatuh cinta namun dirintangi oleh keluarganya, berpisah sekian tahun namun masih memendam perasaan cinta yg begitu dalam. Apakah ceritanya berakhir disini? Tidak, film ber alur flashback ini mengakhiri ceritanya dengan adegan yg sangat dramatis dan menyentuh, menyadarkan kita betapa besar kekuatan cinta…. Betapa besar pengorbanan yg bisa dilakukan seseorang demi cinta mereka…

Sumber  : http://promosinet.com/hiburan/film/2740-14-film-dengan-twist-ending-ending-tak-terduga.html

Sabtu, 20 Agustus 2016

Cerpen : Mimpi-mimpi Semu



Mimpi-mimpi Semu



By : KhaniFFauzan

            Kesekian kalinya, mimpi itu terulang kembali.
            Sama. Setiap malam, mimpi itu datang menghampiriku. Dalam lelap, semua terasa begitu nyata, indah, dan menggetarkan dada. Aku melihatnya dengan jelas, sosoknya yang anggun, berparas bagai malaikat surga nan bercahaya. Dia membiusku melalui alunan romansa.
            Kulihat seorang putri sedang duduk manis diatas altar yang dikelilingi bunga-bunga. Mawar, melati, tulip, hembuskan semerbak mewangi. Menjulang tinggi aliran air dari sela-sela tebing terjal, menjadi panorama disekelilingnya. Sejuk terpatri dalam hati ditengah elok suasana cerah dimana awan berarak memenuhi cakrawala. Hangatnya sang mentari, menambah syahdu latar suasana. Memandang dirinya, menentramkan diri.
            Sayangnya, ku hanya bisa menikmati indah parasnya dari kejauhan. Di balik rimbun pepohonan, ku melihatnya bermain dengan alam. Kecipak air serta lantunan anggun bait-bait suci  menjadi kebiasaannya. Ketika ku tak dapat menahan diri untuk tak mendekatinya, tiba-tiba muncul semburat merah dari langit. Senja pun turun perlahan, bersamaan dengan sosoknya yang menghilang dalam keremangan.
            Lalu sepi ku sendiri.
            Saat ku terbangun, entah mengapa kurasakan getar-getar halus menjalari dadaku. Rona indahnya selalu terbayang lekat, pekat, membawaku menuju ranah khayali romansa. Bahaya sekali bila dada ini meledak.
            Di alam nyata, romansa berpadu dengan panah-panah asmara. Segala puji kuhaturkan pada Tuhan yang menanam benih-benih cinta ini, kudapat merasakan indahnya dunia ketika benih itu mulai tumbuh meliuk-liuk dalam hati. Cintaku berhulu dari mata, lalu bermuara dalam sosoknya.
Kujatuhkan rasa ini pada seorang wanita teman sekelasku, yang selama ini tak pernah ku perhatikan sebelumnya. Dua tahun melewati masa SMA, ternyata dialah yang senantiasa hadir dalam mimpi-mimpiku. Karin namanya. Awal mula ku merasakannya ialah, saat tangan kami tak sengaja bersentuhan ketika ku meminjam buku catatannya. Dunia seakan berubah.
Hingga saat ini, tak pernah ku alami mimpi yang lain.
***
            Denting besi memecah keheningan pagi. Waktu yang semula berhenti, kini terasa menggerus rona. Sayup-sayup, terdengar pekik tertahan dari sebuah gudang kopra yang busuk. Dapat disaksikan seonggok jasad wanita tergantung berayun-ayun ditengah ruangan. Bibirnya yang telah membiru, menandakan degup jantungnya telah berhenti selamanya.
            “Jangan kak! Jangan kau bunuh aku!” Seorang perempuan terseok-seok panik. Matanya memancarkan ketakutan, melihat sesosok lelaki mendekatinya dengan pisau terhunus di tangannya. Mulutnya menyeringai, seolah keluarkan aroma busuk pembunuh. Jiwanya sedingin ular, tanda hatinya telah mati. Perempuan itu mencoba melawan sia-sia. Disaat nafasnya tercekat rasa takut, sebilah pisau menusuk dadanya berkali-kali. Darah membanjiri lantai yang dingin.
            Seonggok jasad yang menggantung, seorang perempuan yang ditusuk, sang lelaki mengabadikan semua pemandangan ini dengan kamera.
***
            Satu hari yang lain dari biasanya, kali ini aku tidak melihat senyuman itu lagi. Dalam mimpiku, ia terlihat murung, seolah mengabaikan rayuan alam yang berusaha menghiburnya. Hawa eligi berhembus dari jiwanya, membuat bunga-bunga layu satu per satu. Sinar matanya kini meredup. Langit yang cerah kini mulai berselimut awan mendung. Apa yang terjadi? Kemana semua kebahagiaan itu lenyap? Hari ini, seakan itu bukanlah dirinya.
***
            Akhir-akhir ini marak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga. Faktor ekonomi banyak menjadi masalah utama yang memicunya, disertai dengan sikap sang kepala rumah tangga yang cenderung senang menghabiskan uang untuk rokok dan judi, daripada memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi jika sang isteri terkenal sikap gila belanjanya, tentulah pailit ekonomi makin mencekik leher. Utang-utang menumpuk, rokok tak ada, judi kalah terus. Timbul stress berkepanjangan dalam keluarga, teutama sang suami. Karena hal itu, muncul percekcokan sebagai menu utama setiap hari, sehingga berujung kasus kekerasan dalam rumah tangga.
            Seperti itu yang terjadi pada Karin. Lima hari silam, mendung menaungi wajahnya yang muram karena masalah keluarganya. Kudengar tentang keadaannya dari sahabatku Amir, yang selama ini kuminta jawabannya atas persoalan cintaku.
Selama ini ku masih tak berani mengutarakan perasaanku, tapi ketika mendengar masalahnya kuingin membantunya. Apa yang harus kulakukan untuk membantunya jikalau ku memintanya membicarakan hal itu, ia menolaknya? Ia justru makin menghindar dari keramaian dengan menenggelamkan diri pada kesunyian. Tak lagi kulihat senyum manisnya, tak lagi kudengar canda tawanya, seakan dunia telah menjauh darinya.
Seiring waktu yang merangkak maju, tak pernah kulihat lagi sosoknya yang nyata.
***
Langit merah saga keunguan, bercampur hitamnya mendung tutupi rona cakrawala kuning, menjadi lambang eligi balada. Awan berarak melingkar-lingkar, semilir dingin mencekam tegakkan bulu roma. Bunga-bunga layu, kering kerontang. Air terjun dari tebing tak lagi jernih dengan warnanya yang cokelat pudar bercampur lumpur. Pepohonan meranggas, menyisakan cabang-cabang bagai tanduk setan. Tanah pecah-pecah, tak lagi subur. Di atas altar agung, wajahnya makin putus asa. Semua keadaan ini berbeda sekali semula, kontras bagai hitam dan putih.
Hening, sunyi. Mata lentiknya mengerjab-kerjab teteskan linangan intan.
Seperti membisik, hujan pun turun deras. Kosong, tanpa makna berarti. Ku tak ingin terus bersembunyi, tak perduli akan apa yang terjadi. Mimpi-mimpi yang kuhabiskan tuk melihatnya, mengapa berakhir seperti ini? Aku menyukainya. Aku ingin senyuman itu tetap ada, walau sesaat ia akan menghilang seperti biasanya. Diantara putihnya suasana, kedua tanganku meraba udara tuk mencari sosoknya yang ditelan hujan. Dingin, kembang kempis dadaku mati rasa.
“Dimanakah engkau putri? Kuingin kau kembali tersenyum lagi. Selama ini ku hanya bisa melihatmu dari kejauhan karena kau terus menghilang saat ku dekati. Ku tak mengerti akan dirimu, namun aku menyukaimu! Walau ku tak mengerti akan kesedihanmu, setidaknya biarkan aku di sampingmu. Menghiburmu, laiknya pujangga di hadapan kekasihnya. Tunjukkan dirimu, wahai panah asmaraku!”
‘Zrrash!’
Hujaman air tiba-tiba berhenti begitu saja. Lengking teriakanku seolah memantul diantara bebatuan tebing, menembus hatinya.
Tanpa kusadari, jemariku telah bertaut dengan lentik jemarinya. Dia tersenyum padaku, begitu menawan nan tulus.
Terasa bening. Beberapa patah kata ia bisikkan.
“Aku juga menyukaimu, pujanggaku. Ku selalu menghilang darimu karena ku takut engkau kan sedih saat kehilangan diriku. Sejak mimpimu hadir, ku telah menyadari tak lama ku bersemayam dalam anganmu. Aku hadir, untuk menghembuskan rasa cinta dalam hatimu agar kau dapat merasakannya, dan coba menyadari akan kekasih yang sesungguhnya di alam nyata. Aku hanyalah perwujudan romansa Tuhan. Dan suasana kontras yang engkau lihat adalah gambaran bagi kisah cintamu!
Engkau kan merasa kecewa dan sedih. Maafkan aku yang telah menunjukkan semua ini padamu. Selamat tinggal”
Di balik punggungnya, melebar dua sayap malaikat. Perlahan ia terbang, melepaskan tautan jemarinya dari tanganku. Terbang mesra meliuk-liuk bersama alunan angin, menyibak gumpalan awan hingga menembus cahaya Tuhan yang turun dari surga. Ia berpisah selamanya padaku. Itulah pertama dan terakhir kali ku sentuh sosoknya. Lembut bagai kapas. Berwarna seperti pudaran kilau pelangi.
***
Mimpi itu berakhir, menguap bersama lamunan semu.
Di sebuah rumah sederhana, berkibar bendera merah, tanda akan kematian seseorang. Saat itu aku merasa sangat marah, sedih, bercampur rasa kecewa. Semuanya berakhir dengan ending yang menyesakkan dada. Rumah Karin bagai lautan manusia. Para pelayat saling berdesakan dengan petugas kepolisian saat sebuah keranda besar di gotong enam lelaki kekar. Sayup-sayup yassin dan dzikir tahlil bak dengung ribuan lebah, mengiringi keranda yang satunya menuju pemakaman. Beberapa orang meratapi kematian itu, namun lebih banyak yang saling berbisik gosip dan pandangan takut.
Inti percakapan merekalah yang membuat perasaanku berbalik 180 derajat membenci Karin. Semua rasa cinta ini berakhir tragis.
Kata mereka, kenapa? Kenapa semua ini dapat terjadi padahal tak satupun anggota keluarganya membenci dirinya? Memang keluarganya itu menemui masalah ekonomi, tetapi ayahnya sama sekali tak pernah berlaku keras terhadapnya. Beberapa tahun terakhir ia sedang mengalami gangguan kejiwaan sehingga jati diri lelakinya ia sembunyikan dengan penampilannya sebagai wanita!
Mengapa ia tega membunuh ibu dan adik perempuannya hanya karena gangguan jiwa? Dan mengapa pula malah ayahnya yang ditangkap pihak kepolisian, sedang ia menghilang tak tahu rimbanya?
Semua khayalan dan mimpiku berakhir saat ini juga. Dia yang kucintai ternyata hanyalah seorang lelaki psikopat!
Boyolali, 13 April 2016
Genre : Fantasy, Romance, Mistery

Cerpen : Paradoks yang Tersembunyi


Paradoks yang Tersembunyi

By : KhaniFFauzan

            Malam yang tenang, suara jengkerik bersahutan memenuhi atmosfer sepi, dan remang-remang, di antara lampu jalanan yang berkedip-kedip. Jarang-jarang kendaraan kendaraan melintas saat ini, pukul sepuluh malam, dimana manusia normal kembali ke peraduannya untuk bersiap kerja di esok hari. Toko-toko telah tutup, aktivitas berhenti semua, saat lembaran hari ingin berganti dua jam lagi.
Dalam suasana tenang, sunyi, nan terasa dingin ini, lewatlah seorang lelaki dengan langkah tergesa. Perawakannya tegap, dengan dasi polos melingkar di lehernya. Pada jas besar yang ia kenakan, bertengger name text ‘Rizki Ahmad’ sambil mengenggam erat koper besar dengan berpeluh dingin. Bayangan tubuhnya mengiringi langkah cepatnya, di antara temaram lampu-lampu jalanan. Sendirian, lelaki itu melenggang bebas.
“Sial! Piket malam sampai jam sepuluh malam tanpa tambahan gaji sama sekali. Sumpah, aku benar-benar akan keluar dari pekerjaan ini jika hanya membuang waktuku dengan sia-sia!” Gerutu sang lelaki bersungut-sungut.
Siang tadi pada pukul satu di saat terik serasa membakar kulit, seorang manager perusahaan manufaktur mengumumkan pada semua stafnya bahwa malam ini akan ada rapat penting membahas masa depan perusahaan. Sang manager rupanya memiliki kendala dengan para pesaing bisnisnya dari luar negeri akibat adanya inflasi yang melanda. Tepat pukul delapan malam, ternyata rapat ditunda esok hari di karenakan sang manager. Sialnya, sang Office boy lagi pulang kampung selama sebulan, sehingga dia yang dapat giliran piket hari ini untuk menjaga kantor sampai manager kembali. Dalam kebosanan yang hanya di temani sepi, dia juga harus menyelesaikan arsip-arsip bagian pemasaran yang menggunung. Dan setibanya manager pada jam sepuluh malam, dia membawa kabar buruk bagi sang lelaki. Upah piket malam di tiadakan demi menutupi kerugian perusahaan, di tambah lagi kendaraan umum tak beroperasi pada malam hari sehingga itu memaksanya untuk pulang berjalan kaki. Waktu sial baginya. Namun apa mau di kata?
Gemerisik dedaunan mengalun seiring tiupan angin mencekam. Hewan-hewan malam selain jengkerik mulai menunjukkan aktivitasnya. Sekilas, burung hantu berkelebat di atas lelaki. Seekor kucing hitam melintas cepat dengan mata nocturnal-nya, acuh pada langkah cepat sang lelaki yang hampir saja menabrak hewan itu.
“Hewan sialan!” umpat sang lelaki. Sesaat, desiran dingin meraba tengkuknya yang berkeringat. Bulu romanya mulai tegak.
Dalam keremangan suasana, samar-samar ia melihat sebuah bola dari kejauhan. Bola itu polos, tanpa gurat-gurat alur.
***
Lima belas menit yang lalu.
Nun jauh di atas langit, berjarak seribu tahun perjalanan manusia, sebuah makhluk melesat turun dengan kepakan sayapnya melintasi cakrawala. Ratusan cahaya di tembusnya dengan kecepatan kilat demi menuntaskan tugasnya untuk membawa pergi seorang manusia meninggalkan dunia. Dari buku catatan yang ia bawa, di situ tertulis sebuah nama yang besar dalam lembaran terakhir, ‘Rizki Ahmad’
***
“Aneh sekali? Mengapa ada bola berbentuk seperti itu di sekitar sini?” pikir sang lelaki, heran. Bukan hanya bentuk anehnya seperti telur, tapi posisinya yang tepat di tengah-tengah jalan seakan ingin menghadang seseorang yang lewat. Bola itu putih polos, mengkilat jika terkena pancaran sinar lampu jalanan. Bandingkan saja dengan kepala botak yang bersinar diterpa cahaya matahari, persis seperti itu.
Mungkin saja ada anak yang lupa mengambil kembali bolanya saat bermain di tengah jalan. Wajar saja, karena tiap sore jalanan selalu di gunakan untuk arena bermain saking sempitnya lahan kosong. Lalu, sang lelaki pun melewati bola itu begitu saja. Ia kembali berjalan dengan cepat setelah tadi sempat memelankan langkah.
Beberapa langkah ia gapai, desir aneh kembali menerpa tengkuknya. Suara tapak kaki terdengar sumbang saat ia berjalan, seakan ada yang mengikutinya dari belakang. Kepalanya menoleh ke belakang. Tak ada apapun, hanya ada bola itu di belakangnya.
Ia pun mempercepat langkahnya karena perasaannya mulai tak enak. Jantungnya berdegup tak teratur imbangi kecepatan kakinya. Perasaan ada yang mengikuti kian menguat saat sekelebat bayangan manusia ia tangkap melalui pandangan matanya yang mengarah ke kanan bawah. Kepalanya menoleh kembali ke belakang diliputi perasaan cemas. Sekali lagi tak ada apapun, kecuali hanya bola itu yang berada di tengah jalan.
Makin cepat, ia pun berlari kencang. Sosok di belakangnya seakan memburunya beringas melihatnya melesat. Suara bola ditendang tak sengaja, menggema di udara membuktikan kalau di belakangnya memang ada yang mengikuti. Hembus nafas tak teratur terselimuti rasa takut yang benar-benar menguat. Ternyata memang ada yang mengikutinya! Semburat ketegangan mencuat dibalik rona cemasnya demi menyelamatkan diri dari sosok yang mengejarnya. Entah apapun itu, yang jelas perasaannya mengatakan sosok itu berbahaya. Badannya mencoba berkelit dari kejaran dengan menelusup ke gang-gang sempit, tak tahu sampai ke mana.
Dan kesialan menimpanya sekali lagi, di depannya adalah gang buntu.
Sang lelaki berhenti secara mendadak, dan mendadak pula sosok itu menabrak tubuh ringkihnya yang takut, sehingga mereka berdua terjerembab mencium tanah.
***
Satu jam yang lalu, dillaporkan sebuah subjek percobaan hasil kloning reproduktif melarikan diri dari laboratorium. Subjek percobaan ini adalah seorang manusia paruh baya, berjenis kelamin laki-laki, dan tinggi semampai seperti orang dewasa pada umumnya. Ciri utama yang membedakannya dengan manusia biasa adalah barcode pelat besi yang menempel di tengkuknya. Saat melarikan diri, ia mengenakan T-Shirt warna putih dengan dasi dan jas melapisi pakaiannya. Celana hitam ia kenakan pula lengkap dengan sepatu mengkilat habis di semir dan sebuah koper. Semua pakaian itu dicurinya dari ruangan pribadi sang ilmuan. Dalam kepanikan tertahan di laboratorium, tiga ilmuan dikerahkan guna mencari sang subjek, karena subjek ini merupakan satu-satunya yang masih tersisa setelah tiga subjek yang lain melarikan diri.
Deru mobil melesat menembus udara malam. Tiga ilmuan itu mulai mencarinya.
***
“Ugh…” Samar-samar sang lelaki sadar dari pingsan sesaat. Dengan kondisi tengkurap, ia tak dapat bangun karena sebuah tubuh menindih di atasnya. Perlahan, pemilik tubuh itu juga bangun secara tiba-tiba.
Mereka pun bertatapan sesaat. Bingung.
Sang lelaki meraba wajahnya, sosok itu pun menirukan. Beralih dari wajah, sang lelaki meraba badan, pakaian, kedua tangan, sampai ke rambut kusutnya, lalu mengkucal-kucal matanya, sosok itu juga menirukan. Pakaiannya ia buka untuk menunjukkan sesuatu di tengkuknya, dan sosok itu juga sama-sama memiliki sesuatu di tengkuknya. Sebuah plat barcode. Seketika sang lelaki meraih kopernya, dengan cepat pula sosok itu meraih sebuah koper. Apa yang terjadi?
“Siapa kamu?” Tanya mereka secara bersama.
Setiap inci tubuh sang lelaki ternyata sama dengan sosok itu. Lekuk-lekuk wajahnya, pakaian, gerak-gerik, suara, rambut, semuanya sama. Name text sosok itu pun sama ‘Rizky Ahmad’, bahkan saat sang lelaki menyebut namanya sendiri, nama sosok itu juga sama. Mungkin, ini hanya mimpi buruk belaka. Dia saat ini sedang di rumah tertidur lelap sambil memeluk bantal nyaman. Namun tangannya terasa sakit ia cubit. Ini bukanlah sebuah mimpi. Ia lalu mengamit tangan sosok itu dan membawanya ke jalan raya yang terang demi membuktikan kalau yang dihadapannya adalah manusia.
Tangannya menampar wajah sosok itu. Tentu saja sosok itu balas menamparnya juga. Di bawah temaram lampu jalan, mereka saling tampar menampar.
Dari kejauhan pandangan, deru mobil melaju kencang berkecepatan seratus kilometer per jam menyibak angin dingin. Penghuni kendaraan itu adalah tiga orang ilmuan yang sedang tergesa mencari subyek percobaan yang hilang. Sopirnya seakan tidak memperhatikan jalanan yang terdapat dua orang saling tampar-menampar gila. Dan dua orang itu juga tidak menghiraukan akan kendaraan yang melintas.
Pandangan mereka berdua berubah gelap.
Para ilmuan yang tergesa, merasa panik mengetahui bahwa mobil mereka menabrak dua manusia biasa. Namun karena waktu yang memburu, mobil langsung tancap gas meninggalkan dua orang mengglepar di jalanan.
Sedetik kemudian, dari langit turunlah sesosok makhluk bersayap di antara dua jasad terbaring itu. Kesadaran mereka kembali normal dengan cepat, mereka terbelalak melihat makhluk bercahaya tanpa rupa ada di hadapan mereka. Mereka tahu siapa yang ada dihadapannya sekarang ini dan apa yang akan terjadi. Malaikat maut alias sang pencabut nyawa.
Tapi sang malaikat heran dengan mereka berdua. Mereka sama. Pakaian, rupa, nama, plat barcode, serta ruh mereka juga sama, sampai-sampai sang malaikat bertanya pada mereka.
“Siapa yang lebih dulu mau dicabut nyawanya?” Mereka saling tunjuk.
Dan akhirnya sang malaikat mencabut nyawa mereka secara bersamaan.
Teknologi kloning memang sialan.
Boyolali, 30 Januari 2016



Kamis, 28 Juli 2016

Cerpen : Pena



Pena
By : KhaniFFauzan
 
H-10 (20:50- Distrik satu)
            Desir halus menegakkan pori-pori kulit. Malam ini, angin berhembus dingin sekali seperti suhu es. Dalam keadaan seperti ini, sebagian orang lebih memilih tinggal dalam kamar dan berselimut tebal bagai kepompong, namun tidak bagi Andri. Dalam kamar, dinginnya udara dari celah-celah jendela sedikitpun tak dihiraukannya. Ia lebih tertarik mengamati benda yang siang tadi ia temukan di tengah jalan, sebuah pena.
            Ia timang-timang, ia amati secara seksama benda yang ada ditangannya itu, sesekali ia mainkan benda itu karena rasa penasarannya. Pena yang unik. Warnanya putih mengkilat dengan dua garis hitam dipermukaannya. Ujungnya yang runcing seperti jarum, namun sayang. Beberapa kali Andri menggoresnya diatas kertas, setitik tinta tak keluar juga. Sesuatu yang paling menarik perhatian Andri adalah pangkal pena itu, yaitu ukiran emas bertuliskan ‘Fluch’
“Nak Andri! Ibu minta tolong belikan supermi di warungnya Bu Atik. Malam ini Ibu gak punya lauk.” Suara Ibu memanggilnya dari dapur. Segera Andri beranjak dari kamarnya demi memenuhi permintaan Ibunya itu. Pena-nya ia masukkan ke dalam saku celana.
            Beberapa menit kemudian …
            Malam yang dingin biasanya menyimpan cerita tersendiri yang terkadang tanpa di duga. Benang-benang takdir bagi seseorang di tentukan dengan suatu kejadian yang paling berasa dalam hidupnya. Malam ini, langit meneteskan rintik eligi nan tipis, sedikit menyamarkan suara-suara sumbang yang saling memekik dari mulut orang-orang. Langkah-langkah kaki merubung tergesa seakan ditarik medan magnet yang kuat. Sirine ambulan datang dari ujung jalan demi selamatkan sesosok jasad pingsan berlumuran darah.
            Pukul sembilan tepat, tragedi mencuat. Seorang anak laki-laki tertimpa sebilah besi disamping bangunan yang sedang di renovasi. Beberapa bungkus supermi berserakan di jalanan. Dalam posisi telungkup, darah mengalir pekat dari luka-lukanya.
            Dan di tangan kanannya, tergenggam erat sebuah pena.
H-10 (21:05- Distrik dua)
            Detik-detik melaju cepat, seiring goresan pena yang diayunkan oleh novelis Eiri Kamil. Jarinya menari-nari diatas kertas sejak pukul tujuh tadi. Berlembar-lembar ia habiskan dengan tulisan yang sedemikian banyak. Konsentrasinya terpusat penuh dengan cerita yang dibuatnya, hingga tak dihiraukannya peluh di tengkuk dan perut yang sejak tadi keroncongan. Entah energi apa yang merasuki dirinya, ia terus menulis sampai tangannya melepuh.
            ‘Ctak!’
            Ia banting pena yang digunakannya, karena tak tahan lagi. Tangannya bengkak, memerah seperti bara dan berdenyut denyut perih. Tapi wajahnya tersenyum gembira.
            “Aku telah membuat sebuah cerita yang sangat menakjubkan! Tak kusangka, aku bisa menulis semua ini!” diangkatnya tinggi-tinggi, semua lembar kertas yang telah ditulisnya. Selama dua jam, tak kurang dari seratus lembar penuh dengan tulisannya. Ia masih tak percaya. Awalnya, ia hanya coba-coba menulis cerita dengan pena yang di temukannnya tadi di jalan, selepas pulang kerja dari kantor, tapi malah keterusan dan tak mau berhenti. Berkali-kali dibacanya hasil tulisannya itu, tetap saja ia merasa takjub.
            “Semua ini..” Eiri mengambil pena yang dibantingnya dari lantai. “Semua ini karena benda ini, yah! Aku yakin, ceritaku pasti akan tersebar luas. Namaku akan jadi populer dimana-mana! Dunia akan mengetahui ‘Eiri Kamil’ sang pengarang tersohor yang mampu menembus alam semesta, masa depan, dan seluruh lintasan waktu. Aku tak perlu lagi hidup susah dan terlunta-lunta”
            Tentang pena yang Eiri gunakan adalah pena berwarna hitam tanpa tutup, yang mempunyai dua garis putih di permukaannya. Ujungnya runcing seperti jarum. Pangkal pena itu adalah ukiran emas bertuliskan ‘Fluch’.
            Lalu Eiri memberi judul ceritanya ‘Hitam’
H-7 (22:05-NA_Distrik 5)
            “Three.. two.. one.. start”
            Sebuah roket dari distrik 5 membelah angkasa. Malam ini, satelit terbaru Negara Z diluncurkan bersama dengan dua orang Angkasanot, untuk mengamati keadaan bumi dan luar angkasa dari bulan. Kalian tahu kan, seperti Astronautnya Amerika atau Kosmonautnya Rusia itu. Tapi karena Negara Z punya pusat penelitian luar angkasa sendiri, maka dinamakan Angkasanot, singkatan dari National Angkasanot (NA). Diprediksikan dalam tujuh hari ke depan, bumi akan mengalami sebuah badai yang sangat hebat. Awan Kumulonimbus berarak memenuhi setiap sudut langit dengan hujan derasnya di beberapa negara dunia. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, maka Negara Z meluncurkan sebuah satelit demi mengawasi perubahan keadaan bumi.
            Lagipula akhir-akhir ini, isu kiamat, sering berdengung dimana-mana. Tujuh hari ke depan diprediksi akan jadi catatan hitam sejarah dunia. Itulah sebab utama mengapa satelit terbaru Negara Z diluncurkan. Bagaimana keadaan bumi yang mungkin akan terjadi?
H-3 (12:00-Seluruh Dunia)
            Tak ada yang menyangkal fakta, bahwa Eiri telah menjadi seorang pengarang terhebat di seluruh dunia pada hari ini. Novel yang ia tulis tujuh hari yang lalu telah selesai tiga hari kemudian. Tak ada 48 jam setelah novel tersebut dicetak, seratus ribu kopi habis terjual bak kacang goreng. Seluruh penduduk Negara Z tercengang dengan isi cerita yang ditulisnya. Setelah laku keras di dalam negeri, empat hari kemudian karyanya tersebut telah menjadi rebutan bagi setiap penerbit di seluruh dunia. Saking banyaknya permintaan dari masyarakat, semua staf penerjemah bahasa harus berjuang ekstra keras menyelesaikan setiap kata untuk diterjemahkan, dan unik, hari selanjutnya novel tersebut habis terjual di pasaran.
            Dalam novel ‘Hitam’ karya Eiri Kamil, diceritakan seorang penjelajah waktu bernama Jayana telah melintasi seluruh jagad hingga akhir dunia. Sang tokoh utama mendapat kemampuannya itu melalui percobaan sederhana yang ia praktekkan setelah ia mendengar suara dari langit. Jayana mengukir sebuah lingkaran yang mengelilinginya di tanah dengan beberapa goresan menyilang diantara kedua sudut lingkaran, lalu ia rapalkan ucapan mantra dari langit sembari membayangkan tahun berapa ia akan pindah. Ketika berhasil melintasi waktu, dirinya menemukan sebuah cara dari masa depan untuk mencegah terjadinya kematian dan tragedi, serta mengubah dunia penuh dengan kegembiraan dan kedamaian.
            Seluruh rasa sakit, ia hilangkan. Semua yang terluka langsung sembuh seketika. Tak ada lagi bencana, tak ada lagi pekik nestapa, yang ada hanyalah dunia damai tanpa kematian yang menyedihkan.
            Cerita itu menginspirasi setiap orang saat ini untuk melakukan hal yang sama dengan sang tokoh utama. Apakah yang terjadi? Para ilmuan, filusuf, agamawan, tak henti-hentinya mengucap ‘luar biasa!’ dalam bahasanya masing-masing, karena seluruh teori novel ‘Hitam’ dapat dibuktikan!
            Sayangnya dalam novel yang tebalnya enam ratus lembar itu, akhir ceritanya seperti terpotong begitu saja.
H-1000 Tahun Lalu
            Langit kelabu selimuti Kerajaan Aca. Glegar petir menyambar ganas diantara menara-menara pencakar langit. Seorang lelaki berlari kencang menembus guyuran hujan, sembari sesekali menengok ke belakang, memastikan para prajurit kerajaan tak dapat menemukannya diantara tiang-tiang menara. Tangannya mencengkram kuat sebuah kotak yang diselamatkannya dari kelaliman penguasa Aca. Setelah dirasa posisinya cukup tersembunyi, ia membuka penutup kotak itu dengan hati-hati.
            Peluh dingin menetes dari tengkuknya, terkesiap ketika suara langkah-langkah kaki menuju ke arahnya. Ujung-ujung tombak para prajurit berkilau diterpa kilat, seakan haus akan darah. Mengetahui dirinya terancam, sang lelaki kembali berlari.
            “Hoi! Jangan lari kau!” seru para prajurit. Kejar mengejar kembali terjadi. Sang lelaki berlari memasuki gang-gang sempit diantara menara. Sialnya ia menemui jalan buntu.
            “Apa salahku sehingga kalian ingin membunuhku? Bukankah wajar bila aku hanya menyelamatkan satu saja dari warisan keluargaku?” seru sang lelaki. Para prajurit telah mengepungnya sekarang, tak ada jalan keluar lagi.
            Seorang prajurit angkat bicara. “Engkau telah mengambil sebagian dari harta kerajaan dan menyulut api pemberontakan yang membahayakan kerajaan. Tindakanmu tak pantas untuk diampuni! Serahkan harta itu, dan kami akan menghabisimu secepat mungkin!”
            “Tidak akan! Hingga titik darah penghabisan, akan kupertahankan harta ini demi keadilan! Kalian sudah banyak membunuh orang-orang yang kusayangi, kalianlah yang pantas mati!”
            “Lancang sekali mulutmu itu! Semuanya, habisi dia!”
            Tanpa perlawanan yang berarti, seluruh prajurit mencabik-cabik tubuhnya hingga nyawanya bagai setipis benang. Sang lelaki masih bertahan dari serangan para prajurit. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dibukanya kotak itu dan dia ambil isinya. Para prajurit menghentikan serangannya sejenak, mengamati apa yang ingin dilakukannya.
            Dengan lemah, kedua kakinya berdiri tegak. Sambil menggenggam benda itu, tangannya teracung ke depan. “Suatu hari, benda ini akan mengakhiri dunia!” Kilat mencelap dari langit. “Kedua pena ini, tak ada yang dapat menghentikannya untuk memberi kutukan. Dunia ini kotor, dunia ini penuh nista dan ketidakadilan! Pantas untuk dihancurkan!”
            Dia lemparkan kedua benda itu ke langit. Bersamaan dengan petir yang menyambar, dua pena itu menghilang. Hidup sang lelaki berakhir saat itu juga.
H-1 (00:00-Rumah Sakit Distrik Satu)
            Semilir angin meniup tirai-tirai di celah-celah jendela Ruang Violet 7. Langit kelabu masih menaungi distrik 1, menambah kelamnya suasana malam ini. Di atas kasur yang nyaman, terbaring lemah seorang pemuda yang sembilan hari lalu tertimpa bilah besi bangunan saat beli supermi, Andri. Bilah itu tepat menimpa punggung dan kakinya sehingga membuat tulang rusuk dan betisnya patah. Kecelakaan yang menimpanya untung tidak terlalu fatal, hanya saja kakinya tak bisa diselamatkan. Tulang betisnya yang patah jadi tiga harus diamputasi, tapi ia masih bersyukur nyawanya tertolong saat itu.
            Pena yang ia temukan di amatinya kembali. Selama di rumah sakit, di cobanya terus ujung pena itu, berharap segores saja tinta keluar. Tapi sayang sekali tak sedikitpun pena itu mau mengeluarkan tintanya. Ia mencoba terus didorong penasarannya, mungkin saja kali ini ia harus menyerah untuk mencobanya.
            “Pena yang bagus memang, sayang sekali yah tak bisa digunakan buat nulis” gumannya, sambil mengambil buku harian di mejanya. Ujung pena itu coba ia permainkan untuk corat-coret, saat itulah ia terkejut.
            Sebuah coretan kecil tercipta dari goresan yang ia mainkan. Entah mengapa seperti tangannya digerakkan energi gaib, jari-jarinya dengan luwes menulis sebuah kisah diatas lembaran kertas. Tenaganya tak terlalu cepat, namun juga tak terlalu lambat, sangat halus seperti orang menari. Matanya berkilat-kilat tajam, keringat menetes dari lehernya. Awan berarak kembali turunkan hujan deras, hembuskan hawa dingin menusuk kulit. Embun tercipta pada permukaan kaca jendela, mengalir pelan saat bersatu sedikit demi sedikit. Tirai-tirai berkelebatan, nafasnya terengah-engah. Andri seakan berada di dunia lain.
            Setelah penuh satu buku harian, ia ambil buku yang lain. Hal itu terjadi secara terus menerus hingga matahari bersinar terang menyilaukan mata. Saat itulah baru ia letakkan pena diatas bukunya. Ia memberinya judul ‘Putih’
            Bersamaan dengan itu, angin bertiup kencang menyibak jendela. Engselnya berdecit-decit, kasur Andri berderak-derak, dan saat itulah sesosok makhluk putih bersayap masuk ke dalam ruangannya.
            Sosok itu tersenyum melihat Andri. Perlahan, tangan putihnya menembus dada Andri. Tanpa sempat terkejut, seluruh tubuh Andri terasa ringan. Sosok itu mengamit tangannya, melesat menembus atap hingga ke atas langit.
Dua jam kemudian seisi rumah sakit panik dengan seluruh keadaan didalam Ruang Violet 7. Kertas berserakan dimana-mana, kaca jendela yang pecah berkeping-keping, dan juga muncul sebuah tulisan dilangit-langit ruangan yang menggunakan darah segar.
Tulisan itu masih meneteskan cairan merah kental. Sebuah kalimat besar-besar tertulis menggunakan kalimat Jokerman,
‘TAK ADA LAGI KEMATIAN’
Hari H-Jam Z (Dunia Gila)
            Seluruh dunia berpesta pora karena setiap orang pasti abadi. Dengan keabadian itulah, tak ada yang mesti dilakukan kecuali menyelenggarakan perayaan internasional. Teknologi berkembang pesat seiring detik-detik terlewati. Seluruh permukaan bumi penuh sesak dengan adanya pembangunan seluruh aspek kehidupan. Orang miskin telah lenyap, peperangan musnah. Perdamaian telah menjadi menu utama yang dapat dirasakan umat manusia, bahkan melintasi jagad raya dan masa lalu sudah jadi hal biasa.
            Tapi inilah masalah yang sebenarnya.
            Dalam cerita ‘Putih’ yang ditulis oleh Andri, kelanjutan aktivitas sang tokoh utama masih berlangsung. Jayana, yang berkali-kali melintasi waktu menyebabkan kekacauan dunia permanen. Sejarah yang harusnya hanya jadi kenangan, kini bisa diubah sesuka hati. Alam semesta menjadi terasa sempit karena semua manusia melewatinya tanpa batas. Orang-orang yang membawa kerabatnya dari masa lalu atau masa depan membuat populasi manusia jadi tak terkendali, ditambah lagi semua bersifat abadi! Karena kematian telah lenyap, dunia jadi padat meski Amerika dan Rusia melenyapkan manusia berkali-kali dengan nuklir. Seperti di film-film imajinasi, setiap tubuh yang terpotong bisa menyambung kembali secara cepat. Tak ada rasa sakit dan sedih, membuat manusia berperilaku seenaknya saja.
            Dunia menjadi gila.
H+5 (Luar Angkasa)
            Dua orang Angkasanot terjaga dari tidurnya setelah dua belas hari tertidur dalam kapsul satelit. Waktunya meleset dari target yang seharusnya tujuh hari, menjadi dua belas hari. Perjalanan yang amat panjang, dari bumi hingga ke bulan. Namun alangkah terkejutnya mereka melihat layar komunikasi mereka yang dipenuhi sinyal ‘SOS’ dan kata ‘Save Earth Now!’ sejak tiga hari yang lalu. Mereka tahu, itu pertanda keadaan genting dibumi saat ini. Secepatnya, mereka menuju ruang pengamat di atas satelit.
            Semua mata membelalak. Tak percaya dengan segala yang mereka lihat.
            “Apa ini?!” Seru mereka berbarengan.
            Jendela kaca berbatasan langsung dengan ruang hampa udara bulan. Di setiap jendela kaca, kini bukan permukaan bulan yang tampak, melainkan wajah-wajah para manusia yang tersenyum mengerikan. Berkali-kali mereka menggumamkan kata ‘Fluch!-Fluch!’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Kutukan’. Seluruh layar monitor guna memantau keadaan bumi kini dipenuhi gambar manusia berterbangan dimana-mana, seakan gerombolan lebah yang memenuhi angkasa. Ketika mereka melongok keluar, bumi telah tertutup dengan tumpukan manusia hingga menembus berlapis-lapis atmosfer. Tak tampak lagi rupa bumi sebagai planet, melainkan hanyalah sebuah bola yang berisi tumpukan para manusia.
Boyolali, 10 April 2016
.....