Tampilkan postingan dengan label Psychological. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychological. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

Cerpen : Percobaan Bunuh Diri

Percobaan Bunuh Diri
Hasil gambar untuk bunuh diri pakai suntik
By : KhaniFFauzan
Bumi itu datar atau bulat?
Pertanyaan itu selalu menggantung di langit-langit pikiranku. Semenjak hadir kembali paham bumi itu datar, membuatku ragu akan kebenaran ilmu pengetahuan. Teori-teori ilmuan terbantahkan, kebohongan-kebohongan NASA terkuak, namun entahlah yang di katakan penganut flat earth society itu benar atau sekedar cari sensasi.
Aku ingin membuktikannya dengan sebenar-benar bukti yang meyakinkan. Bukan hanya sekedar percaya saja. Lalu bagaimana caranya?
Dengan menggabungkan antara ilmu pengetahuan, metafisika, dan agama, aku telah menemukan kesimpulan akhir demi pembuktian bentuk bumi. Aku akan terbang menembus atmosfer, dan dengan mata kepalaku sendiri ku kan melihatnya. Lalu?
Pakai ruh saja. Jasad tinggalkan di bumi.
Dalam video-video bumi datar, di terangkan bahwa belum ada manusia yang sanggup menuju luar angkasa. Penjelasan NASA pernah ke luar angkasa hanya kebohongan, dan roket-roket yang pernah diluncurkan hanya meledak di atmosfer.
Cara ngeluarin ruh gimana?
Yaa.. bunuh diri lah!
***
Banyak sih sebenarnya cara-cara ngeluarin ruh. Ilmu-ilmu ghaib seputar itu bertebaran dimana-mana, sayangnya aku tak percaya semua itu. Mungkin ada juga sih yang mengaku berhasil praktekinnya, namun kebanyakan cuma kesurupan atau halusinasi sesaat.
Bunuh diri itu sakit lho.
Tapi dengan alat-alat yang kurancang, kukira semua beres!
Dalam laboratorium, telah siap alat-alat tuk memulai perjalanan menembus berbagai alam. Sebuah tabung seukuran manusia yang terhubung dengan penyetabil suhu, kitab-kitab primbon, buku-buku rajah beserta sesajinya, semua siap. Seorang kawanku, Adrian, jadi operator yang mengatur hubungan antara ruhku dengan jasad, agar aku tak benar-benar mati.
Sedikit cerita selingan tentang mimpiku semalam yah!
Sehari sebelum kumantapkan tekadku, aku bermimpi berdiri di tengah kegelapan. Tiba-tiba semua terang seperti siang bolong, lalu ada sebilah pisau menembus perutku dari belakang! Ketika kulihat orang di belakangku, ternyata ia Adrian!
Itu hanya mimpi lho. Bunga tidur tanpa makna.
“Tertanggal 5 Agustus, engkau akan memulai perjalananmu. Tingkat keberhasilan adalah 10%. Jika gagal, pilihannya adalah mati. Kau siap?”
Aku mengangguk pada Adrian setelah masuk ke dalam tabung. “Siap”
Tabung menutup rapat. Selang-selang infus terpasang. Mesin-mesin di jalankan. Untuk memulainya, aku meminum kopi yang telah di campur sianida. Pening menjalari kepalaku, tubuhku kejang-kejang hebat, Adrian lalu menyuntikkan penawar racun yang telah di campur morfin 0.5 gram. Mataku memerah, rasanya perih sekali. Mengerjab-kerjap dalam gelap. Tanpa rasa.
Desir halus terasa di tengkukku. Syaraf-syaraf tercerabut satu per satu. Mulai dari kaki, ke pusar, lalu kerongkongan. Nah, saat di sinilah rasanya seperti di panggang hidup-hidup di atas bara api, atau seperti ketika lehermu tertancap tombak bercabang hingga menembus tengkuk lalu di cabut paksa. Kira-kira rasanya seperti itulah.
Namun, samar telingaku menangkap lengking sirine darurat. Aku tak tahu apa yang terjadi, yang jelas rasanya seperti ribuan tombak bercabang menembus sekujur badanku, lalu di tarik, lalu menembus kembali, beratus-ratus kali amat menyiksa.
Kemudian perlahan berkurang, stabil, rasanya ringan.
Tanpa kusadari, tubuhku melayang-layang di atas ruangan. Kulihat jasadku kejang-kejang hebat, hingga hidung dan sela-sela mataku mengeluarkan darah tanpa henti. Adrian berkali-kali menyekanya, tak kunjung reda.
Coba kusentuh jasadku, namun tembus. Sejenak ku merasa panik, coba kumasuki jasadku. Tak bisa. Wajah Adrian makin pias, tubuhku bergetar hebat makin membiru. Lalu tanpa ragu, Adrian mengambil sebilah pisau.
Ujungnya yang runcing menembus dadaku. Adrian membisikkan kata maaf.
Tiba-tiba, ruhku tersentak ke atas seperti tersedot. Terus menembus atmosfer, kutahan perih menjalari sekujur tubuh dengan kupejamkan mata.
Sampai di angkasa.
Tak dapat kulihat bentuk bumi.
Yang ada hanyalah ribuan makhluk bersayap yang besarnya menutupi cakrawala. Salah satu dari mereka ternyata sejak tadi mengamitku menuju lebih ke atas lagi. Lebih tinggi lagi. Hingga akhirnya ia lalu melemparku dalam kubangan api.
“Ia mati bunuh diri” begitu bisiknya pada makhluk sejenisnya.
Aku tenggelam dalam siksaan tanpa akhir!
…..
‘Gedebuk!’
“Arrgh…!!”
 Aku terjatuh dari kursiku. Di atas meja belajar, dimana-mana masihlah terserak benda-benda penelitian yang belum sempat kuselesaikan. Semua hanyalah ilusi.
“Mimpi sialan!” gerutuku.
Semarang, 06 September 2016

Sabtu, 20 Agustus 2016

Cerpen : Orang Lemah


Orang Lemah

By : KhaniFFauzan

 

            Manusia yang paling mengenaskan adalah orang lemah. Selalu, mereka tertindas dihimpit orang-orang sok kuat yang kerap di laknat. Orang lemah adalah budak, bidak, selalu mati paling awal dalam setiap peperangan. Kebanyakan adalah beban memberatkan yang tak jarang menambah kematian (cenderung dilindungi-tidak bisa balik melawan). Disisi lain, mereka hanyalah makhluk tak berguna.
            Itulah faktanya. Saat aku berjalan bersendak-sendak.
            ‘Bugh!!’
            Sekepal tangan melayang di pelipisnya. Muka dan dada lebam-lebam semua.
            ‘Duash!’
            Tubuhnya melayang berdebum kena tendangan keras. Ia meringkuk memegangi perutnya yang kesakitan. Sayang sekali, kembali memantul di kulit-kulitnya makian dan perpeloncoan.
            Entah bagaimana hal ini dapat terjadi setiap hari. Di belakang sekolah, lima monster hasil evolusi setan gila, mengeroyok satu kelinci. Aku heran, kenapa kelinci itu tak mati-mati?
            ‘Brugh’
            Para monster lalu meninggalkan si orang lemah setelah puas mempermainkannya. Sendiri, di pojokan gedung ia luka lara di tahannya. Isi dompet miliknya berhamburan keluar, hanya tersisa belenggu penderitaan.
            Dan aku hanya termangu melihatnya. Pemandangan yang sering terjadi saat ingin ke kantin.
***
            Dani namanya. Ringkih orangnya.
            Tiada berliter-liter air matanya tumpah kecuali mengingat ibunya bersemayam di alam baka. Selama 5 tahun 5 bulan 5 hari, tak lepas segala kenangan dari benaknya tentang senyuman itu. Selalu bibirnya merintih lewat doa-doa, memohon Yang Kuasa tuk selalu merawat sosok cintanya dalam damai. Dalam diam, dalam dekapan, bunga-bunga ilalang berhamburan di hatinya. Menebarkan semerbak kasih sayang.
            Dirinya begitu baik. Penuh cinta setiap helai uraian kisah sedihnya. Dekil sosoknya, miskin dompetnya, merah matanya kurang tidur. Sayang, lima Iblis selalu menambah penderitaannya.
            Namun, tak peduli bagaimanapun ia, itu semua bukan urusanku.
***
            Manusia yang suka menindas adalah wujud dari setan. Muka mereka keruh bak lumpur, sampai semut-semut enggan menengok sosoknya-takut kena tula.
            Sebab musabab para setan jadi biadab karena perbuatan Dani yang tak di sengaja. Sore waktu itu, alkohol berkaleng-kaleng di belakang sekolah, Dani kebetulan memergoki. Dia telah berjanji, namun entah bagaimana, kabar itu bisa merasuki telinga-telinga penggosip. Kicau burung merepet bisik-bisik, sampai akhirnya para setan dilaknat Dewa sekolah. Skorsing total. Pengangguran edan.
            Menyimpan dendam, seperti menaruh bangkai dalam dada. Makin hari makin tengik, jadi penyakit, jadinya semua ikutan busuk. Hati busuk, mulut busuk, otak busuk, sampai panca indera senang menikmati hal-hal busuk. Kalau barang sudah busuk, jadinya harus dibuang ke tempat sampah. Agar sampah musnah, semuanya itu dibakar dalam neraka.
            Sayang, Tuhan belum membakarnya. Mereka masih menikmati waktu-waktu gila.
            Kurang puas hanya menganiaya, mereka ingin merusak segalanya tentang Dani. Sepulang sekolah, kelimanya menyerbu apartemen Dani berdengus-dengus. Ada yang menyaksikan tragedi itu, tapi emang sih sifat dasar manusia maunya aman-aman aja. Ada pula manusia lewat lalu sembunyi-itu aku, sinting merekam peristiwa itu penuh senyuman. ‘Pasti banyak subscribe di YouTube!’ kata sorot matanya.
            Menggunakan tongkat bisbol, kepala di hempaskan. Kaki menjejak-jejak punggung, kursi-kursi di lemparkan. Ruang tamu jadi kapal pecah. Semua jendela kaca pecah, mereka koor berteriak senang! Dani batuk darah.
            Dia jatuh telungkup ditindih, tangannya diikat jemari ke punggungnya. Helai rambut ditarik keras. Seorang raksasa ada di depannya. Tersenyum lebar. Menggenggam dompetnya. Beberapa lembar uang berpindah ke kantung kumal, oh sebuah foto hitam putih terselip.
            Dani berteriak ‘Jangan!’
            Mata raksasa itu membulat.
            Tanpa banyak cingcong, gambar itu tercerai berai jadi serpihan yang diinjak-injak.
            Tak cukup, demikianlah tak cukup.
             Semua senyuman dalam bingkai, hancur berkeping-keping di depan Dani. Mereka robek, mereka bakar jadi abu. Sisanya bertaburan pada wajahnya. Bergetar rongga-rongga dadanya.
            Pekik mendengking berisik. Setan jahat pada tertawa tersedak-sedak macam kejang-kejang habis menenggak sianida. Sampai hampir mampus, mereka meninggalkannya terkapar.
            Lantas, kukirim video ini ke YouTube.
***
            Bukan muram, bukan senyum, bukan sedih, bukan gembira. Tak tahu itu ekspresi apa.
            Esok ia berangkat ke sekolah-tentu penuh lebam-tentu pakai tongkat-tentu ditanya ini itu banyak di kasihani. Sehari macam setan budek bin bisu. Tanpa ekspresi.
            Besoknya, kembali ke sekolah. Bawa tas, tapi tak ada buku. Tatapannya kosong dan nanar. Masih saja para biadab itu menganiayanya namun tidak mengambil uangnya. Udah abis brow!
            Besoknya lagi ia berangkat. Tanpa tas, tanpa buku, seragam masih seperti kemarin, awut-awutan. Lalat-lalat merubunginya. Guru menyuruhnya cuci muka. Tapi sampai akhir pelajaran, ia tak kembali.
            Kutu-kutu kepalanya berpesta pora akibat dekil sosoknya. Matanya merah, sayu. Tak ada yang benar-benar peduli-cari aman tanpa masalah. Bahkan para guru dan tetangganya begitu.
Sudah tiga hari berselang dalam hening.
Kulitnya mulai memutih pucat serupa mayat.
***
Hari keempat, hujan menerpa atap-atap seng bergemerincingan.
Dia tidak berangkat. Lagipula, hujan ini emang sejak tadi malam kerasan tak jua reda. Bertambah-tambah deru angin menghempas jagad. Hanya orang tak waras yang sembarangan keluar rumah menghadapinya. Di sinilah aku. Di temani tiga wanita dan lima pria pengangguran, dari total tiga puluh siswa. Guru-guru pada tidur di rumah semua.
Bel istirahat berdentang. Tiba-tiba lampu mati.
Semua keluar cari cahaya. Di langit, awan hitam bergulung-gulung. Desir kencang menampar-nampar wajahku beserta tampias dinginnya. Aneh? Perasaan takut apa ini?
Kelokan parit mengalirnya air kuamati jadi pelepas bosan. Lekat, dahiku berkerut-kerut. Alirannya bening, tapi lama-lama keruh. Berbau?
Langkah kakiku mengikuti arah kelokannya, coba cari penyebabnya. Berbelok-belok. Hujan-hujanan gak peduli.
Dan kini kusadari faktanya, saat aku berjalan bersendak-sendak.
…
Aku tersedak-sedak.
“Apa ini?!” Kilat muncul mencelap.
Demi Tuhan, sungguh, nanar mataku melihatnya. Bak habis tersengat kalajengking, badanku terjengkang, lemas, sempoyongan, terduduk mencengkram rambut basahku. Perutku tertohok macam habis di tendang orang, aku muntah-muntah beriak. Tersengal-sengal hebat!
Di belakang sekolah, di depan mataku, lima monster itu berubah menjadi cacahan daging bertumpuk-tumpuk. Kecil-kecil wujudnya, bisa di goreng layaknya potongan ayam. Semua terburai, semua tercerai berai. Anyir baunya berkelok jadi satu dengan aliran hujan sepanjang parit-parit.
Ada satu sosok yang masih hidup setengah badan. Wajahnya bergurat-gurat penuh luka menganga campur lumpur. Ia merintih minta tolong. Saat itulah kilatan pisau menembus tengkuknya sampai rongga mulut. Membungkam selamanya.
  Petir menyambar-nyambar. Sosok sang kelinci kini telah berubah jadi jagal. Kumal. Matanya bersinar-sinar. Tersenyum bibir pecah-pecahnya, sekujur tubuh warna merah semua. Pisaunya meneteskan darah segar.
“Freddy…” Lirih ia panggil namaku, “maafkan aku atas semua yang kau lihat ini. Kepada setan-setan aku tidak berharap hal-hal mengerikan. Ini adalah keadilan …”
Ia melangkah maju mendekatiku. Tergesa badanku mundur menggesek lumpur.
“Demi keadilan, takkan kubiarkan segalanya terulang kembali. Engkau selalu berada di sekitarku selama ini. Sayang, engkau buta. Kau biarkan segalanya terjadi. Aku takkan bertanya kenapa kau tak jua menolongku sebab kini, pertanyaan itu sudah basi. Orang sepertimu kelihatannya lebih cocok jadi mayat”
Aku menggeleng, berbalik ingin berlari, dan terjatuh. “Tidak ..tidak Dani, maafkan aku!”
Semakin dekat. Pisau itu teracung acung. “Aku tak melihat, aku tak mendengar, aku tak mengerti. Hanya warna kematian yang ada di mataku ini”
Kakiku menjejak keras tanah berlumpur, semburat ketakutan mencuat. Trauma psikologis mengitari kepengecutanku. Seketika, bayang-bayang kematian telah datang menembusku.
Orang lemah tak selamanya lemah. Mereka bahkan menjadi lebih kejam daripada orang-orang sok kuat tanpa di sadari.
Boyolali, 29 Juli 2016

Kamis, 28 Juli 2016

Cerpen : Pena



Pena
By : KhaniFFauzan
 
H-10 (20:50- Distrik satu)
            Desir halus menegakkan pori-pori kulit. Malam ini, angin berhembus dingin sekali seperti suhu es. Dalam keadaan seperti ini, sebagian orang lebih memilih tinggal dalam kamar dan berselimut tebal bagai kepompong, namun tidak bagi Andri. Dalam kamar, dinginnya udara dari celah-celah jendela sedikitpun tak dihiraukannya. Ia lebih tertarik mengamati benda yang siang tadi ia temukan di tengah jalan, sebuah pena.
            Ia timang-timang, ia amati secara seksama benda yang ada ditangannya itu, sesekali ia mainkan benda itu karena rasa penasarannya. Pena yang unik. Warnanya putih mengkilat dengan dua garis hitam dipermukaannya. Ujungnya yang runcing seperti jarum, namun sayang. Beberapa kali Andri menggoresnya diatas kertas, setitik tinta tak keluar juga. Sesuatu yang paling menarik perhatian Andri adalah pangkal pena itu, yaitu ukiran emas bertuliskan ‘Fluch’
“Nak Andri! Ibu minta tolong belikan supermi di warungnya Bu Atik. Malam ini Ibu gak punya lauk.” Suara Ibu memanggilnya dari dapur. Segera Andri beranjak dari kamarnya demi memenuhi permintaan Ibunya itu. Pena-nya ia masukkan ke dalam saku celana.
            Beberapa menit kemudian …
            Malam yang dingin biasanya menyimpan cerita tersendiri yang terkadang tanpa di duga. Benang-benang takdir bagi seseorang di tentukan dengan suatu kejadian yang paling berasa dalam hidupnya. Malam ini, langit meneteskan rintik eligi nan tipis, sedikit menyamarkan suara-suara sumbang yang saling memekik dari mulut orang-orang. Langkah-langkah kaki merubung tergesa seakan ditarik medan magnet yang kuat. Sirine ambulan datang dari ujung jalan demi selamatkan sesosok jasad pingsan berlumuran darah.
            Pukul sembilan tepat, tragedi mencuat. Seorang anak laki-laki tertimpa sebilah besi disamping bangunan yang sedang di renovasi. Beberapa bungkus supermi berserakan di jalanan. Dalam posisi telungkup, darah mengalir pekat dari luka-lukanya.
            Dan di tangan kanannya, tergenggam erat sebuah pena.
H-10 (21:05- Distrik dua)
            Detik-detik melaju cepat, seiring goresan pena yang diayunkan oleh novelis Eiri Kamil. Jarinya menari-nari diatas kertas sejak pukul tujuh tadi. Berlembar-lembar ia habiskan dengan tulisan yang sedemikian banyak. Konsentrasinya terpusat penuh dengan cerita yang dibuatnya, hingga tak dihiraukannya peluh di tengkuk dan perut yang sejak tadi keroncongan. Entah energi apa yang merasuki dirinya, ia terus menulis sampai tangannya melepuh.
            ‘Ctak!’
            Ia banting pena yang digunakannya, karena tak tahan lagi. Tangannya bengkak, memerah seperti bara dan berdenyut denyut perih. Tapi wajahnya tersenyum gembira.
            “Aku telah membuat sebuah cerita yang sangat menakjubkan! Tak kusangka, aku bisa menulis semua ini!” diangkatnya tinggi-tinggi, semua lembar kertas yang telah ditulisnya. Selama dua jam, tak kurang dari seratus lembar penuh dengan tulisannya. Ia masih tak percaya. Awalnya, ia hanya coba-coba menulis cerita dengan pena yang di temukannnya tadi di jalan, selepas pulang kerja dari kantor, tapi malah keterusan dan tak mau berhenti. Berkali-kali dibacanya hasil tulisannya itu, tetap saja ia merasa takjub.
            “Semua ini..” Eiri mengambil pena yang dibantingnya dari lantai. “Semua ini karena benda ini, yah! Aku yakin, ceritaku pasti akan tersebar luas. Namaku akan jadi populer dimana-mana! Dunia akan mengetahui ‘Eiri Kamil’ sang pengarang tersohor yang mampu menembus alam semesta, masa depan, dan seluruh lintasan waktu. Aku tak perlu lagi hidup susah dan terlunta-lunta”
            Tentang pena yang Eiri gunakan adalah pena berwarna hitam tanpa tutup, yang mempunyai dua garis putih di permukaannya. Ujungnya runcing seperti jarum. Pangkal pena itu adalah ukiran emas bertuliskan ‘Fluch’.
            Lalu Eiri memberi judul ceritanya ‘Hitam’
H-7 (22:05-NA_Distrik 5)
            “Three.. two.. one.. start”
            Sebuah roket dari distrik 5 membelah angkasa. Malam ini, satelit terbaru Negara Z diluncurkan bersama dengan dua orang Angkasanot, untuk mengamati keadaan bumi dan luar angkasa dari bulan. Kalian tahu kan, seperti Astronautnya Amerika atau Kosmonautnya Rusia itu. Tapi karena Negara Z punya pusat penelitian luar angkasa sendiri, maka dinamakan Angkasanot, singkatan dari National Angkasanot (NA). Diprediksikan dalam tujuh hari ke depan, bumi akan mengalami sebuah badai yang sangat hebat. Awan Kumulonimbus berarak memenuhi setiap sudut langit dengan hujan derasnya di beberapa negara dunia. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, maka Negara Z meluncurkan sebuah satelit demi mengawasi perubahan keadaan bumi.
            Lagipula akhir-akhir ini, isu kiamat, sering berdengung dimana-mana. Tujuh hari ke depan diprediksi akan jadi catatan hitam sejarah dunia. Itulah sebab utama mengapa satelit terbaru Negara Z diluncurkan. Bagaimana keadaan bumi yang mungkin akan terjadi?
H-3 (12:00-Seluruh Dunia)
            Tak ada yang menyangkal fakta, bahwa Eiri telah menjadi seorang pengarang terhebat di seluruh dunia pada hari ini. Novel yang ia tulis tujuh hari yang lalu telah selesai tiga hari kemudian. Tak ada 48 jam setelah novel tersebut dicetak, seratus ribu kopi habis terjual bak kacang goreng. Seluruh penduduk Negara Z tercengang dengan isi cerita yang ditulisnya. Setelah laku keras di dalam negeri, empat hari kemudian karyanya tersebut telah menjadi rebutan bagi setiap penerbit di seluruh dunia. Saking banyaknya permintaan dari masyarakat, semua staf penerjemah bahasa harus berjuang ekstra keras menyelesaikan setiap kata untuk diterjemahkan, dan unik, hari selanjutnya novel tersebut habis terjual di pasaran.
            Dalam novel ‘Hitam’ karya Eiri Kamil, diceritakan seorang penjelajah waktu bernama Jayana telah melintasi seluruh jagad hingga akhir dunia. Sang tokoh utama mendapat kemampuannya itu melalui percobaan sederhana yang ia praktekkan setelah ia mendengar suara dari langit. Jayana mengukir sebuah lingkaran yang mengelilinginya di tanah dengan beberapa goresan menyilang diantara kedua sudut lingkaran, lalu ia rapalkan ucapan mantra dari langit sembari membayangkan tahun berapa ia akan pindah. Ketika berhasil melintasi waktu, dirinya menemukan sebuah cara dari masa depan untuk mencegah terjadinya kematian dan tragedi, serta mengubah dunia penuh dengan kegembiraan dan kedamaian.
            Seluruh rasa sakit, ia hilangkan. Semua yang terluka langsung sembuh seketika. Tak ada lagi bencana, tak ada lagi pekik nestapa, yang ada hanyalah dunia damai tanpa kematian yang menyedihkan.
            Cerita itu menginspirasi setiap orang saat ini untuk melakukan hal yang sama dengan sang tokoh utama. Apakah yang terjadi? Para ilmuan, filusuf, agamawan, tak henti-hentinya mengucap ‘luar biasa!’ dalam bahasanya masing-masing, karena seluruh teori novel ‘Hitam’ dapat dibuktikan!
            Sayangnya dalam novel yang tebalnya enam ratus lembar itu, akhir ceritanya seperti terpotong begitu saja.
H-1000 Tahun Lalu
            Langit kelabu selimuti Kerajaan Aca. Glegar petir menyambar ganas diantara menara-menara pencakar langit. Seorang lelaki berlari kencang menembus guyuran hujan, sembari sesekali menengok ke belakang, memastikan para prajurit kerajaan tak dapat menemukannya diantara tiang-tiang menara. Tangannya mencengkram kuat sebuah kotak yang diselamatkannya dari kelaliman penguasa Aca. Setelah dirasa posisinya cukup tersembunyi, ia membuka penutup kotak itu dengan hati-hati.
            Peluh dingin menetes dari tengkuknya, terkesiap ketika suara langkah-langkah kaki menuju ke arahnya. Ujung-ujung tombak para prajurit berkilau diterpa kilat, seakan haus akan darah. Mengetahui dirinya terancam, sang lelaki kembali berlari.
            “Hoi! Jangan lari kau!” seru para prajurit. Kejar mengejar kembali terjadi. Sang lelaki berlari memasuki gang-gang sempit diantara menara. Sialnya ia menemui jalan buntu.
            “Apa salahku sehingga kalian ingin membunuhku? Bukankah wajar bila aku hanya menyelamatkan satu saja dari warisan keluargaku?” seru sang lelaki. Para prajurit telah mengepungnya sekarang, tak ada jalan keluar lagi.
            Seorang prajurit angkat bicara. “Engkau telah mengambil sebagian dari harta kerajaan dan menyulut api pemberontakan yang membahayakan kerajaan. Tindakanmu tak pantas untuk diampuni! Serahkan harta itu, dan kami akan menghabisimu secepat mungkin!”
            “Tidak akan! Hingga titik darah penghabisan, akan kupertahankan harta ini demi keadilan! Kalian sudah banyak membunuh orang-orang yang kusayangi, kalianlah yang pantas mati!”
            “Lancang sekali mulutmu itu! Semuanya, habisi dia!”
            Tanpa perlawanan yang berarti, seluruh prajurit mencabik-cabik tubuhnya hingga nyawanya bagai setipis benang. Sang lelaki masih bertahan dari serangan para prajurit. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dibukanya kotak itu dan dia ambil isinya. Para prajurit menghentikan serangannya sejenak, mengamati apa yang ingin dilakukannya.
            Dengan lemah, kedua kakinya berdiri tegak. Sambil menggenggam benda itu, tangannya teracung ke depan. “Suatu hari, benda ini akan mengakhiri dunia!” Kilat mencelap dari langit. “Kedua pena ini, tak ada yang dapat menghentikannya untuk memberi kutukan. Dunia ini kotor, dunia ini penuh nista dan ketidakadilan! Pantas untuk dihancurkan!”
            Dia lemparkan kedua benda itu ke langit. Bersamaan dengan petir yang menyambar, dua pena itu menghilang. Hidup sang lelaki berakhir saat itu juga.
H-1 (00:00-Rumah Sakit Distrik Satu)
            Semilir angin meniup tirai-tirai di celah-celah jendela Ruang Violet 7. Langit kelabu masih menaungi distrik 1, menambah kelamnya suasana malam ini. Di atas kasur yang nyaman, terbaring lemah seorang pemuda yang sembilan hari lalu tertimpa bilah besi bangunan saat beli supermi, Andri. Bilah itu tepat menimpa punggung dan kakinya sehingga membuat tulang rusuk dan betisnya patah. Kecelakaan yang menimpanya untung tidak terlalu fatal, hanya saja kakinya tak bisa diselamatkan. Tulang betisnya yang patah jadi tiga harus diamputasi, tapi ia masih bersyukur nyawanya tertolong saat itu.
            Pena yang ia temukan di amatinya kembali. Selama di rumah sakit, di cobanya terus ujung pena itu, berharap segores saja tinta keluar. Tapi sayang sekali tak sedikitpun pena itu mau mengeluarkan tintanya. Ia mencoba terus didorong penasarannya, mungkin saja kali ini ia harus menyerah untuk mencobanya.
            “Pena yang bagus memang, sayang sekali yah tak bisa digunakan buat nulis” gumannya, sambil mengambil buku harian di mejanya. Ujung pena itu coba ia permainkan untuk corat-coret, saat itulah ia terkejut.
            Sebuah coretan kecil tercipta dari goresan yang ia mainkan. Entah mengapa seperti tangannya digerakkan energi gaib, jari-jarinya dengan luwes menulis sebuah kisah diatas lembaran kertas. Tenaganya tak terlalu cepat, namun juga tak terlalu lambat, sangat halus seperti orang menari. Matanya berkilat-kilat tajam, keringat menetes dari lehernya. Awan berarak kembali turunkan hujan deras, hembuskan hawa dingin menusuk kulit. Embun tercipta pada permukaan kaca jendela, mengalir pelan saat bersatu sedikit demi sedikit. Tirai-tirai berkelebatan, nafasnya terengah-engah. Andri seakan berada di dunia lain.
            Setelah penuh satu buku harian, ia ambil buku yang lain. Hal itu terjadi secara terus menerus hingga matahari bersinar terang menyilaukan mata. Saat itulah baru ia letakkan pena diatas bukunya. Ia memberinya judul ‘Putih’
            Bersamaan dengan itu, angin bertiup kencang menyibak jendela. Engselnya berdecit-decit, kasur Andri berderak-derak, dan saat itulah sesosok makhluk putih bersayap masuk ke dalam ruangannya.
            Sosok itu tersenyum melihat Andri. Perlahan, tangan putihnya menembus dada Andri. Tanpa sempat terkejut, seluruh tubuh Andri terasa ringan. Sosok itu mengamit tangannya, melesat menembus atap hingga ke atas langit.
Dua jam kemudian seisi rumah sakit panik dengan seluruh keadaan didalam Ruang Violet 7. Kertas berserakan dimana-mana, kaca jendela yang pecah berkeping-keping, dan juga muncul sebuah tulisan dilangit-langit ruangan yang menggunakan darah segar.
Tulisan itu masih meneteskan cairan merah kental. Sebuah kalimat besar-besar tertulis menggunakan kalimat Jokerman,
‘TAK ADA LAGI KEMATIAN’
Hari H-Jam Z (Dunia Gila)
            Seluruh dunia berpesta pora karena setiap orang pasti abadi. Dengan keabadian itulah, tak ada yang mesti dilakukan kecuali menyelenggarakan perayaan internasional. Teknologi berkembang pesat seiring detik-detik terlewati. Seluruh permukaan bumi penuh sesak dengan adanya pembangunan seluruh aspek kehidupan. Orang miskin telah lenyap, peperangan musnah. Perdamaian telah menjadi menu utama yang dapat dirasakan umat manusia, bahkan melintasi jagad raya dan masa lalu sudah jadi hal biasa.
            Tapi inilah masalah yang sebenarnya.
            Dalam cerita ‘Putih’ yang ditulis oleh Andri, kelanjutan aktivitas sang tokoh utama masih berlangsung. Jayana, yang berkali-kali melintasi waktu menyebabkan kekacauan dunia permanen. Sejarah yang harusnya hanya jadi kenangan, kini bisa diubah sesuka hati. Alam semesta menjadi terasa sempit karena semua manusia melewatinya tanpa batas. Orang-orang yang membawa kerabatnya dari masa lalu atau masa depan membuat populasi manusia jadi tak terkendali, ditambah lagi semua bersifat abadi! Karena kematian telah lenyap, dunia jadi padat meski Amerika dan Rusia melenyapkan manusia berkali-kali dengan nuklir. Seperti di film-film imajinasi, setiap tubuh yang terpotong bisa menyambung kembali secara cepat. Tak ada rasa sakit dan sedih, membuat manusia berperilaku seenaknya saja.
            Dunia menjadi gila.
H+5 (Luar Angkasa)
            Dua orang Angkasanot terjaga dari tidurnya setelah dua belas hari tertidur dalam kapsul satelit. Waktunya meleset dari target yang seharusnya tujuh hari, menjadi dua belas hari. Perjalanan yang amat panjang, dari bumi hingga ke bulan. Namun alangkah terkejutnya mereka melihat layar komunikasi mereka yang dipenuhi sinyal ‘SOS’ dan kata ‘Save Earth Now!’ sejak tiga hari yang lalu. Mereka tahu, itu pertanda keadaan genting dibumi saat ini. Secepatnya, mereka menuju ruang pengamat di atas satelit.
            Semua mata membelalak. Tak percaya dengan segala yang mereka lihat.
            “Apa ini?!” Seru mereka berbarengan.
            Jendela kaca berbatasan langsung dengan ruang hampa udara bulan. Di setiap jendela kaca, kini bukan permukaan bulan yang tampak, melainkan wajah-wajah para manusia yang tersenyum mengerikan. Berkali-kali mereka menggumamkan kata ‘Fluch!-Fluch!’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Kutukan’. Seluruh layar monitor guna memantau keadaan bumi kini dipenuhi gambar manusia berterbangan dimana-mana, seakan gerombolan lebah yang memenuhi angkasa. Ketika mereka melongok keluar, bumi telah tertutup dengan tumpukan manusia hingga menembus berlapis-lapis atmosfer. Tak tampak lagi rupa bumi sebagai planet, melainkan hanyalah sebuah bola yang berisi tumpukan para manusia.
Boyolali, 10 April 2016
.....